Selasa, 01 Desember 2015

November Galau

Mungkin bulan November 2015 ini termasuk bulan yang cukup berat untuk aku jalani. Setelah merayakan ulang tahun suami secara sederhana dengan makan-makan di rumah (menu masakannya dimasak khusus oleh Ayah saya)di tanggal 11 November kemarin, kemudian tanggal 13 November nya suami harus masuk RS karena demam yang tidak kunjung turun (dan ternyata hanya radang tenggorokan yang mungkin cukup bandel jadi nenggak amoxcilin pun ga mempan) maka setelah Ayah berulang tahun di tanggal 22 November maka tanggal 23 Novembernya saya menerima sebuah pesan yang cukup menegangkan. Berawal dari tanggal 19 November 2015 ketika Ibu saya seringkali mengirimkan pesan singkat melalui BBM dan menceritakan kalau Ayah saya seringkali merasakan nyeri di area dekat selangkangan yang mana pada area tersebut juga ditemukan sebuah benjolan. Akhirnya di tanggal 23 November Ayah dan Ibu saya berkunjung ke seorang dokter spesialis patologi yang ada di Semarang namanya dokter Adjeg Tarius, SpPA. Setelah pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Adjeg secara mikroskopis dengan mengambil sedikit jaringan dari benjolan tersebut dan memeriksanya dibawah mikroskop maka terlihat ada sel-sel yang mencurigakan yang bisa mengarah ke sel kanker. Kemudian beliau merekomendasikan agar benjolan tersebut diambil saja untuk diperiksa lebih lanjut. Mendengar cerita itu rasanya maaak jedeeeeeerrrr. Ada begitu banyak pemikiran buruk dan ketakutan jika ternyata setelah diperiksa hasilnya adalah kanker. Mendengar cerita teman yang terkena kanker itu sering, tapi untuk mengalami di dalam keluarga sendiri rasanya tidak siap. Mau berdoa pun sampai bingung harus mengucapkan apa. Dan berhubung saya adalah anak tunggal, maka saya harus tegar dan menguatkan Ibu saya. Segala pesan yang saya kirimkan ke Ibu saya semuanya berisi kalimat2 menguatkan yang padahal ketika saya mengetik itu air mata saya menetes terus. Tapi saya tidak mau orang tua saya tau, dan ketika saya bertolak ke Semarang untuk menemani Ayah saya operasi maka saya harus melakukan akting dan sandiwara sebagai lina the warrior princess. Tanggal 26 November 2015 saya berangkat ke Semarang, ini pengalaman saya naik pesawat seorang diri. Biasanya selalu ada orang tua, teman atau suami yang menemani. Takut? sudah pasti, tapi rupanya kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan Ayah mengalahkan rasa takut untuk terbang sendirian. Sore itu untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Dokter Adjeg SpPA di RS Columbia Asia Semarang-Jateng. Beliau meyakinkan kami sekeluarga untuk tidak khawatir dalam menghadapi operasi besok pagi. Sebelumnya waktu saya masih ada di Cikarang, saya sudah berkomunikasi dengan beliau via telepon. Dari percakapan itu beliau menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh kaum awam seperti saya mengenai kelainan yang ditemukan pada benjolan Ayah. Penjelasan yang diberikan cukup detail namun mudah dimengerti karena dia banyak menggunakan perumpamaan dengan bahasa sehari-sehari, sehingga kapasitas otak saya yang terbatas ini masih bisa menangkap maksud beliau. Meskipun judulnya sudah diberikan penjelasan se-detail mungkin tapi tetap saja kekhawatiran tersebut masih ada. Dan rupanya beliau sebagai dokter mungkin bisa menangkap nada khawatir dari percakapan saya dengannya, karena berkali-kali beliau juga meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan bahwa operasi yang akan dilakukan nanti masuk dalam kategori operasi ringan. Malamnya saya juga bertemu dengan dokter Subianto yang akan mengoperasi Ayah saya. Orangnya santai dan tidak menakut-nakuti atas apa yang meninmpa Ayah saya. Oleh dok Subianto, benjolan pada paha Ayah diberi tanda dengan spidol mungkin untuk mempermudah operasi besok pagi, jadi beliau membuat semacam pola (ya keleeuuus memang mau bikin baju). Tanggal 27 November 2015 jam 10 operasi dilakukan, setelah memakan kurang lebih 1.5 jam Ayah keluar dari ruang operasi meskipun masih belum boleh pindah ke kamar rawat inap. Puji Tuhan kondisi Ayah pasca operasi baik, dan Ayah masih terlihat setengah mengantuk karena mungkin masih ada efek dari bius yang diberikan oleh dokter. Sore harinya saya kembali bertemu dengan dokter Adjeg, dan menurut penjelasan beliau jika dilihat secara kasat mata penampakan benjolan yang telah diangkat itu sepertinya masih masuk dalam kategori tumor jinak. Namun untuk mengetahui lebih detail maka harus diperiksa lebih lanjut secara mikroskopis, yang mana artinya benjolan tersebut harus dipotong kecil-kecil dan diperiksa dibawah mikroskop. Buat yang gak tau dokter spesialis patologi anatomi itu dokter apaan sih, saya coba sedikit kasih gambaran. Kalau menurut om google, spesialis patologi anatomi itu spesialisasi di bidang kedokteran yang memeriksa atau melakukan diagnosis terhadap suatu penyakit berdasarkan pemeriksaan makroskopis (kasat mata) dan mikroskopis (dengan mikroskop). Jadi kalau dokter bedah tadi hanya bertugas mengangkat benjolan tersebut, maka untuk tahu lebih jelas apakah itu berbahaya atau tidak adalah pekerjaan dari dokter patologi anatomi. Tapi buat saya pribadi dokter Adjeg bukan hanya sekedar dokter spesialis patologi, dia lebih seperti malaikat yang dikirimkan oleh Tuhan. Kenapa saya bisa bilang begitu? karena pengetahuan saya dan Ibu saya mengenai kelainan ini nol besar. Ditengah ketidak tahuan kami, dan kepanikan serta ketakutan kami, dokter Adjeg banyak membantu kami. Mulai dari menjelaskan dengan cukup detail (dan sabar, karena bolak balik saya telepon dia), membantu kami memilih dokter bedah dan bahkan memilih rumah sakitnya. Kalau tanpa bantuan beliau rasanya saya dan Ibu saya akan kehilangan cukup banyak waktu dalam mengambil keputusan. Karena ada begitu banyak masukkan dari teman2 Ibu dan bahkan teman2 saya tentang bagaimana kami harus menindaklanjuti. Mulai dari saran mengenai pemilihan lokasi (dalam dan luar negeri), pemilihan rumah sakit, sampai referensi dokter. Tapi karena kami (terutama Ayah saya) sudah sangat yakin dengan dokter Adjeg, maka saran dari beliaulah yang kami turuti. Tanggal 28 November 2015 sore hasil pemeriksaan mikroskopis telah selesai,dan Puji Tuhan hasil yang diperoleh tidak ditemukan adanya sel ganas. Menurut dokter Adjeg hasil diagnosa nya disebut Nodular Faciitis (googling sendiri aja ya, atau nanti kalau saya sempat saya rangkumkan tulisan mengenai nodular fasciitis). Saat itu rasanya saya ingin memeluk semua orang yang ada di dalam ruangan (lebay mode on). Dan saya rasa pertemuan saya dengan dokter Adjeg dan dokter Subianto bukan suatu kebetulan semata, saya yakin Tuhan juga yang sudah menyiapkan segalanya. Rupanya Tuhan masih memberikan perpanjangan waktu untuk Ayah, dan semoga perpanjangan waktu ini bisa digunakan dengan baik oleh kami semua. Buat dokter Adjeg, dokter Subianto dan seluruh perawat di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang saya ucapkan terimakasih. Semoga Tuhan memberkati kalian semua.

Rabu, 06 Agustus 2014

Selamat Ulang Tahun

Selamat ulang tahun untuk lelaki yang hobi berbelanja, tidak pernah lelah mengelilingi mall dan bahkan masih menyimpan tenaga ekstra untuk berpindah dari satu mall ke mall yang lain. Selamat ulang tahun untuk lelaki dengan gadget terkini yang akan menghabiskan waktunya berjam-jam bahkan berhari-hari untuk mengutak-atik gadgetnya, dan akan jengkel sendiri ketika akhirnya salah pencet. Selamat ulang tahun untuk lelaki yang setiap kali tidur selalu menggunakan selimut, kaos kaki, dan bahkan syal leher. Selamat ulang tahun untuk lelaki yang memiliki kadar lugu dengan nilai 10 dari skala 1-10. Selamat ulang tahun untuk lelaki yang sepertinya memiliki seribu mulut, karena segala hal selalu dikomentari. Selamat ulang tahun untuk lelaki yang tidak pernah merasa lelah jika sedang bekerja, namun mengeluh sakit justru ketika sedang menganggur. Selamat ulang tahun untuk lelaki yang setiap nempel kasur akan langsung tertidur dan bahkan ngorok, lalu ketika bangun selalu berkata "duh tadi malem ga bisa tidur". Selamat ulang tahun untuk lelaki yang sangat mencintai daging babi, dan selalu berpikir bahwa Tuhan menciptakan babi sebagai sahabat terbaik bagi perut manusia. Selamat ulang tahun untuk lelaki yang tidak hanya pandai memasak, namun tidak sungkan untuk berbelanja sendiri ke pasar memilih segala jenis daging dan sayuran, menyiapkan bahan dan peralatan memasaknya sendiri, dan bahkan mencucinya sendiri. Selamat ulang tahun untuk lelaki yang mencintai the beatles, bee gees, iwan fals, slank, dan cold play. Selamat ulang tahun untuk lelaki yang sudah aku kenal sepanjang nyaris 28 tahun aku menjalani hidup. Selamat ulang tahun untuk lelaki yang kesehariannya aku panggil "pipo". #latepost (22 Nov 2013)

Ayahku

Ia sosok lelaki yang mengenalkan ku akan lagu-lagu milik The Beatles, sementara ia mau belajar menyanyikan lagu-lagu milik Coldplay bersamaku. Ia sosok lelaki yang selalu mengingatkan ku untuk rajin belajar, namun tetap memeluk ku erat ketika aku gagal dalam ujian. Ia sosok lelaki yang marah ketika aku melanggar peraturannya, namun tetap menerima dan memaafkan ku ketika aku sudah terkena batunya. Ia sosok lelaki yang membiarkan ku terbang bebas melihat dunia, namun tetap setia menanti ketika aku lelah dan akhirnya pulang. Ia sosok lelaki yang pandai menyembunyikan air matanya ketika melihat aku tertimpa masalah. Lalu dengan suaranya yang tenang, ia berkata bahwa aku pasti bisa melewatinya dengan baik. Ia sosok lelaki yang memberi kebebasan kepada siapa aku jatuh cinta, namun tetap mengingatkan ku untuk mencari pasangan hidup yang takut akan Tuhan. Ia sosok lelaki yang mengajarkan ku untuk berlutut ketika kaki ini sudah tidak sanggup berdiri, mengajarkan ku untuk menundukkan kepala ketika rasanya sudah lelah menopang beban hidup. Dan pada akhirnya ia adalah sosok lelaki yang membuatku bersyukur dan makin meyadari bahwa cinta kasih Tuhan nyata dan hadir dalam kehidupan ku.

Menikah vs Pacaran

Kemarin ada seorang teman yang mau menikah bertanya "enakkan waktu masih pacaran apa nikah sih?". Pertanyaan simple yang selalu mampir di benak masing-masing orang ketika memutuskan untuk menikah. Sebagai seorang yang sudah menikah hampir 4 tahun, saya mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang saya jawab berdasarakan pengalaman saya selama pacaran dan akhirnya memutuskan menikah dengan sang lelaki. Pertanyaan yang saya jawab dengan mencoba memberikan analogi. Pacaran dan menikah itu seperti kehidupan masa anak-anak dan kehidupan masa dewasa. Ketika kita masih kecil, kita selalu ingin cepat-cepat tumbuh menjadi orang dewasa dengan berbagai macam alasan. Orang dewasa gak perlu belajar setiap semester untuk menghadapi ulangan-ulangan, gak pernah dibatasi pulang larut malam, bebas melakukan segala hal yang terlihat menyenangkan. Begitu kita beranjak dewasa, berapa banyak dari kita yang berandai-andai menjadi anak kecil kembali? anak kecil yang hanya mengenal kata bermain, anak kecil yang tidak pernah pusing kalau cari duit itu susahnya lebih susah ketimbang cari jodoh, anak kecil yang tiap malam tidur pulas karena ga pernah mikirin klien 'ndableg' yang selalu menunda invoice cair. Hal itu juga yang kurang lebih terjadi saat fase pacaran dan menikah. Waktu pacaran, pengen cepet-cepet menikah,karena kliatan nya enak bisa bersama tiap hari 24 jam non stop, bisa merasakan dua tubuh menyatu menjadi satu tanpa dikejar dosa haha, dan lain-lain nya. Namun yang kerap kali terjadi, setelah menikah muncul keinginan untuk memiliki hubungan seperti waktu masih pacaran. Waktu pacaran dia masih suka memberikan kejutan ulang tahun, sekarang inget tanggal nya aja udah syukur alhamdulilah. Waktu pacaran dia masih sabar dan terlihat ikut menikmati ketika kita melakukan hobi/aktivitas kesukaan kita, sekarang bawaan nya manyun mulu kalau disuruh menemani kita. Sama seperti tumbuh kembang anak, setelah bertumbuh jadi dewasa tidak mungkin lagi kembali menjadi anak kecil kan? Nah kalau sudah menikah, juga tidak mungkin lagi situasi dan kondisinya bisa sama persis seperti waktu masih pacaran. Jadi apapun yang terjadi dalam pernikahan kita, dinikmati saja. Pernikahan itu membutuhkan cinta dan komitmen yang tidak bisa dipisahkan layaknya dua sisi koin. Tanpa salah satunya, pernikahan tidak akan berjalan dengan baik. Menikah dengan orang yang kita cintai sanggup membuat hati kita bahagia, tapi ketika ada permasalahan yang sepertinya merenggut kebahagiaan maka kita punya komitmen untuk dapat terus bertahan. Setelah berhasil melewati permasalahan tersebut, maka akan tumbuh lagi cinta yang baru. Begitu seterusnya, muter-muter layaknya lingkaran setan yang tidak boleh putus. Sedangkan kehidupan sexual dalam pernikahan ibarat dompet yang menyimpan koin cinta dan komitmen tersebut agar tidak hilang. Saya pernah membaca timeline twitter seseorang yang menulis "Cinta (dan komitmen) tanpa Sex itu ANCUR, sedangkan Sex tanpa Cinta (dan komitmen) itu namanya PELACUR"

Hidup itu kaya bercinta...

…kadang ada di atas, kadang ada di bawah. Nikmati sajalah …baru merasakan kepuasan, jika tujuan nya sudah tercapai …kadang terasa nyeri, tapi rasanya tetap nikmat. …kadang dijalani karena keharusan, kadang dijalani karena keinginan. …makin bervariasi, makin menyenangkan. …harus merasakan lelah dulu, sebelum merasakan kenikmatan. …kadang bikin pengen triak oh No!, kadang bikin pengen triak oh Yes!

Bukan Romantisme Hollywood

Lupakan sekotak coklat patchi, ajakan makan malam yang diterangi cahaya lilin, ataupun buket bunga mawar import yang warna merahnya begitu menggoda. Dua dari tiga hal tersebut tidak pernah saya dapatkan dari lelaki yang saat ini menjadi suami saya. Bahkan buket bunga mawar yang saya terima terjadi hampir 5 tahun lalu ketika saya wisuda sarjana. Kalau ketiga hal tersebut dijadikan indikator sisi romantisme pada pria, sudah jelas jawaban nya suami saya jauh dari sifat romantis. Tapi apakah benar romantis hanya diukur dari ketiga hal itu? Buat para wanita yang selama ini merasa pasangannya tidak romantis, jangan uring-uringan dulu siapa tau pasangan kalian satu tipe dengan pendamping hidup saya ini. Suami saya tidak pernah bisa mengungkapkan rasa sayangnya dengan simbol-simbol seperti bunga,coklat,barang-barang berharga,atau menyusun kejutan kecil yang bisa bikin mulut saya sedikit terbuka dan menutupnya dengan tangan sambil memekik kecil. Yang seringkali terjadi justru ia begitu bawel dan selalu bisa menemukan alasan untuk memarahi saya. Contoh simple, ia selalu mengingatkan saya untuk mengunci pintu mobil apabila ia meninggalkan saya di dlm mobil sendirian dimanapun itu. Dari parkiran basement yang ada security nya mondar-mandir sampai parkir di pinggir jalan. Ia juga pernah membentak saya yang bolak balik keluar masuk ruangan kantor dan meminta saya untuk segera meninggalkan lapangan parkir kantor hanya karena akan ada forklift yang akan masuk ke area kantor. Dua contoh tersebut terlihat "gak penting" dan ribet, tapi dia melakukan itu semua demi keamanan saya. Dia sangat menghindari hal-hal buruk terjadi pada diri saya. Terkadang kita terjebak dalam romantisme settingan film holywood, dan romantisme khayalan penulis novel. Sehingga kalau pasangan tidak melakukan hal-hal yang dilakukan oleh robert pattinson dalam peran nya sebagai edward cullen dalam film twilight maka kita merasa pasangan kita jauh dari sisi romantis. Dulu saya juga begitu mendambakan mendapat perlakuan romantis ala film holywood. Namun hampir 7 tahun mengenal sosok Erry mampu membuat saya melihat hal-hal yang lebih "dalam". Dan ternyata romantisme yang dilakukan Erry dengan caranya yang unik (judes,galak,bawel,lempeng) sukses membuat saya kelonjotan dan ingin langsung menariknya ke ranjang hahaha

Rabu, 20 Maret 2013

Ada Apa Dengan LGBT?

Kemarin malam dunia burung berkicau twitter diramaikan oleh usul seorang wanita yang berkeinginan me-rehab LGBT (Lesbian, Gay, Bisexsual, dan Transgender). Usulan tersebut langsung direspon secara pro dan kontra. Untuk yang kontra mencoba menjelaskan bahwa LGBT itu bukanlah suatu penyakit, bahwa sudah puluhan tahun lalu WHO mencabut Lesbian dan Gay dari daftar penyakit. Tidak mau kalah, mbak cantik tersebut juga menjelaskan bahwa yang perlu di-rehab bukan hanya penyakit, seperti ada rehab narkoba, alkohol, rokok dan semuanya itu bukanlah suatu penyakit. Saya sendiri termasuk orang yang kontra terhadap usulan mbak cantik itu, kenapa? karena rehabilitasi sendiri memiliki arti "mengembalikan keadaan semula". Rehab para pemakai narkoba karena mereka dahulu tidak memakai narkoba, rehab para alcoholic karena mereka dulu bukan peminum, begitu juga dengan rokok. Sedangkan untuk LGBT? Ketika seorang LGBT mulai merasakan ketertarikan dengan pihak lain, mereka memang tertarik dengan sesamanya, mereka memang tertarik dengan kedua nya (pria dan wanita). Ide untuk me-rehab LGBT itu sama konyol nya jika ada orang yang ingin me-rehab kaum heterosexual menjadi kaum homosexual. Saya sebagai seorang heterosexual tidak bisa menjelaskan kenapa saya tertarik dengan lawan jenis, semuanya terjadi begitu saja. Hal itu juga yang terjadi dengan kaum homosexual. Jadi apanya yang mau dikembalikan ke keadaan semula? Lha wong emang keadaan semulanya sudah begitu. Selain usulan me-rehab LGBT, mbak cantik itu juga mengatakan bahwa kaum LGBT itu merupakan predator. Dia memberikan contoh di salah satu tempat pengajian di Bandung (kalau tidak salah) ada satu orang lesbian, kemudian sekarang menjadi sebelas orang sehingga saat ini sedang dibina kembali. Nah saya sebagai kaum heterosexual yang bersahabat dengan LGBT tidak pernah sedikitpun merubah orientasi sexual saya. Saya tetep nafsunya sama dada telanjang nya Johny Depp, bukan sama pantat indahnya Kim Kardashian kok. Jadi rasanya sangatlah jahat jika menuduh kaum LGBT sebagai predator. Kemungkinan besar untuk contoh kasus yang mbak cantik bagikan adalah memang yang 10 orang sudah memiliki orientasi sexual sesama jenis, hanya saja belum berani mengungkapnya jadi ketika ada 1 orang di pengajian tersebut yang sudah terlebih dahulu berani mengungkapkan jati dirinya, akhirnya yang 10 orang lainnya juga berani. Kalau masalah LGBT ini dikaitkan dengan konteks agama, maka bahasan nya akan semakin panjang kali lebar. Akan ada lebih banyak lagi orang yang pro dan kontra dengan berbagai macam teori dan keyakinan mereka. Kalau teori saya? Mungkin Tuhan di atas sana hanya tersenyum melihat ini semua.

Kamis, 07 Maret 2013

Ada Cinta di Tol Jakarta-Cikampek

Memiliki usaha yang lokasinya ada di kawasan industri Deltamas membuat saya sering sekali melewati ruas tol Jakarta-Cikampek. Apalagi dari tahun 2010-2011 ketika saya masih tinggal di Jakarta, setiap hari dari Senen-Sabtu saya pasti melewati ruas tol tersebut. Kemudian ketika Agustus 2011 rumah saya pindah ke daerah Lippo Cikarang saya juga masih melewati ruas tol tersebut untuk dapat mencapai kantor saya (meskipun jarak tempuh nya menjadi jauh lebih sedikit, hanya kurang lebih 6 km). Baru di akhir thn 2012 ketika ada jalur non tol yang nyaman dan tidak macet yang menghubungkan Lippo Cikarang dan Deltamas, frekuensi saya melewati ruas tol tersebut berkurang. Uniknya setelah sekian lama melewati ruas tol tersebut, saya menemukan beberapa hal kesamaan antara suami saya Erry dengan ruas tol Jakarta-Cikampek. 1. Sama-sama Lempeng Tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana keadaan ruas tol Jakarta-Cikampek kan? Semua orang juga tau bahwa jalan tol tersebut "lurus", "lempeng". Tapi tidak semua orang tau kan kalau Erry adalah pribadi yang "lempeng" seperti jalan tol. Pertama kali mengenalnya di bulan Oktober 2007 usia saya saat itu masih 21 th, sedangkan dia sudah 28 th. Perbedaan umur yang terpaut cukup banyak itu rupanya berbanding lurus dengan perbedaan sifat. Sifat kami berdua totally different! Contoh kasus ke-lempengan Erry adalah kalau ngomong itu selalu to the point (gak pernah pake rayuan gombal, yang memang terdengar cheesy tapi semua perempuan pasti senang mendengarnya). Atau ketika saya masih excited (dan masih ngarep) dengan hal-hal yang berbau "kejutan" seperti kejutan ulang tahun, atau kejutan perayaan hari jadi, mau gak mau hal tersebut harus saya kubur dalam-dalam demi mengurangi resiko kecewa haha. 2. Sama-sama suka bikin emosi Siapa disini yang pernah melewati ruas tol Jkt-Cikampek dan terjebak macet gila-gila'an yang nyaris bikin frustrasi? Inget kan kejadian beberapa waktu lalu ketika buruh-buruh melakukan demonstrasi dengan menutup ruas tol tersebut? wuidiiiih bisa dibayangkan berapa banyak pengguna tol yang saat itu marah, jengkel, dan bahkan saking capek serta ga tahan kena macet panjang jadi kepengen nangis. Hal itu juga yang saya alami selama berhubungan dengan Erry. Bukan rahasia kalau di dalam suatu hubungan ataupun pernikahan pasti ada keributan dan masalah. Terkadang rasanya jengkel setengah mati melihat kebiasaan-kebiasaan buruk nya, terkadang marah menghadapi sikap nya yang tidak bisa saya mengerti, sampai akhirnya saya nangis karena merasa tidak tahan lagi. 3. Sama-sama jalan pulang Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, baik ketika saya masih tinggal di Jakarta ataupun sudah tinggal di Lippo Cikarang, jalan tol Jkt-Cikampek merupakan ruas jalan yang harus saya lewati untuk dapat pulang, untuk dapat sampai rumah, untuk dapat mencapai tujuan akhir saya. Begitu juga dengan Erry, terlepas bahwa dia adalah orang yang "lempeng" dan suka bikin emosi, tapi cuma dia tujuan akhir saya. Kalau mengutip salah satu quote yang berbunyi "home is the place where your heart will stay" maka begitu juga perasaan saya terhadap Erry. Erry itu tujuan akhir saya, tempat dimana hati saya berlabuh, tempat yg bikin saya nyaman, tempat yang bikin saya akan selalu pulang.

Jumat, 15 Februari 2013

Punya Anak=Penetrasi?

Sore ini ada seorang teman mengirim pesan via BBM. Bunyinya kurang lebih seperti ini "emang bener ya kalau lagi hamil rasanya menyenangkan, tapi kalau udah lahir baru berasa pusing (punya anak)?". Yang mengirim pesan tersebut adalah teman saya seorang lelaki, yang istrinya saat ini sedang hamil. Sempet terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya saya membalas pesan tersebut. Kira-kira begini isi balasan saya: "punya anak itu seperti melakukan penetrasi dengan pasangan, ada rasa sakit tapi ada rasa nikmat dan puas. Sedangkan waktu belum dikarunia anak rasanya seperti foreplay dengan pasangan, sama sekali tidak ada rasa sakit tapi greget nya kurang, ada sesuatu yang rasanya belum tercapai" Ok mungkin kalian berpikir otak saya ada di selangkangan, karena segala sesuatunya saya selalu kaitkan dengan hal-hal di sekitar selangkangan. Tapi bukankah hal-hal yang berbau selangkangan itu selalu lebih mudah diingat, ketimbang saya membalas dengan berbagai macam petuah dan kata-kata bijak? Kembali ke topik punya anak rasanya sama seperti penetrasi. Ada beberapa orang yang bercerita merasakan nyeri saat berhubungan intim, sehingga ia trauma untuk melakukan nya lagi. Selalu menghindar ketika pasangan mengajak berhubungan. Ada juga yang merasakan nyeri, namun ia terpaksa melakukan hubungan intim sehingga sebenarnya ia tidak bisa menikmatinya. Hal itu ia lakukan semata-mata hanya untuk menjalankan kewajiban sebagai pasutri. Namun ada juga yg awalnya merasakan nyeri, tapi lewat komunikasi yang baik dengan pasangan (berganti posisi, atau memperpanjang durasi foreplay) akhirnya bisa merasakan kenikmatan. Punya anak juga begitu, kalau kita hanya fokus dengan rasa "sakit" misalnya merasa waktu untuk diri sendiri berkurang,kebebasan menjadi terbatas, belum lagi merasa lelah secara fisik maupun mental karena anak susah diatur maka kita tentu saja tidak akan bisa menikmati proses membesarkan anak. Alhasil setiap hari isinya hanya keluhan "duh anak gue nangis mulu", "ya ampun anak gue susah banget diatur", "halaaaah disuruh makan aja susah minta ampun, dimuntahin melulu". Namun ketika kita bisa menyiasati "rasa sakit" tersebut dengan baik, maka akan ada kepuasan tersendiri dalam membesarkan anak. Ada kenikmatan luar biasa melihat pertumbuhan dan perkembangan anak dari waktu ke waktu. Ada senyum ketika melihat baju anak kotor terkena noda makanan ketika dia belajar makan sendiri (ya noda tersebut menjengkelkan, tapi anak kita akhirnya bisa menyuap makanan sendiri ke dalam mulut mungilnya kan?). Tentu saja rasa lelah selama mengurus dan membesarkan anak juga tidak akan menjadi beban. (Hayooo siapa disini yang sudah pernah melakukan hubungan intim?? Pasti berkeringat, ngos2an, tapi tersenyum puas kan? bahkan nagih deh haha)

Selasa, 22 Januari 2013

be ready!

Setelah blog ini mati suri hampir 1.5th lamanya, hari ini di sela2 kesibukan bekerja di kantor saya mencoba untuk kembali mengisi blog baca tulis ini dengan susunan-susunan huruf yang menjadi rangkaian kata,membentuk kalimat-kalimat dan bermutasi menjadi suatu cerita. Ya syukur-syukur kalau cerita yang ditulis bisa jadi berkat untuk orang yang membacanya. Awal mulanya saya berniat menghidupakan kembali blog ini adalah perjumpaan (hmm gak tatap muka sih sebenernya) saya dengan seorang mas2 yang namanya mas Bayu. Siapakah sosok mas Bayu itu? ternyata beliau adalah pengidap SN alias Sindrom Nefrotik sama seperti saya. Tanggal 18 Januari 2013 ketika saya iseng mengaktifkan akun YM saya, ada sebuah pesan masuk dari Mas Bayu yang memperkenalkan dirinya sebagai pengidap SN dan mengenal saya dari blog yang cukup banyak membahas tentang pengalaman saya sebagai pengidap SN juga. Sayangnya ketika saya membalas pesan nya via YM,dirinya sedang tidak ol dan rupanya dia sudah menghubungi saya sejak tanggal 8/10 Januari 2013 namun karena saya sudah sangat jarang mengaktifkan akun YM, maka pesan2 nya beliau tidak pernah saya ketahui. Akhirnya baru pada hari ini, 22 Januari 2013 saya dan mas Bayu itu bisa saling ngobrol via YM. Ternyata cerita-cerita saya di blog bisa memberikan suppport terhadap mas Bayu sehingga sebagai penderita SN dia tidak merasa sendirian. Mendengar hal itu, saya agak terkejut juga karena dari iseng-iseng menulis di blog dan membagi pengalaman saya selama terkena SN ternyata bisa berarti bagi orang lain. Sebelumnya salah satu teman kuliah saya yang hendak melakukan biopsi ginjal dan "googling" tentang hal tersebut juga menemukan blog saya yang menceritakan pengalaman saya yang sempat di-biopsi ginjal nya sewaktu mengidap SN. Rasanya cukup senang juga karena apa yang saya tulis ternyata bisa berarti dan membantu orang lain. Padahal niat awal saya menciptakan blog ini hanya iseng-iseng saja, sekedar melampiaskan hobi menulis saya. Kembali lagi ke obrolan saya dengan Mas Bayu, dia bercerita bahwa dia mengidap SN sejak tahun 2005 dan dihitung2 sampe hari ini dia sudah mengalami kambuh sebanyak 5x. Dia juga menceritakan bahwa jarak kambuhnya ada yang 1th dan 1.5th. Mengetahui hal itu saya seperti ditarik kembali ke realita bahwa kapan saja penyakit SN saya bisa kambuh lagi, dan saya harus siap dengan itu. Saat ini hitungan saya menunjukkan sudah kurang lebih 1th 3bulan saya lepas dari obat methyl prednisolon dan belum kambuh lagi. Sebelum mendengar kisah Mas Bayu saya sudah tau bahwa SN dalam tubuh saya bisa muncul kapan saja, tapi rupanya waktu 1th cukup membuat saya terlena dan "lupa" akan hal tersebut. Tapi berkat kisah yang dibagikan oleh mas Bayu, saya seperti diingatkan agar bersiap-siap jika suatu saat kambuh kembali. Di akhir perbincangan saya dan mas Bayu, dia minta saya untuk mendoakan nya agar sembuh tota dan tidak kambuh lagi. Tapi saya jawab "Sekarang saya sudah merubah doa saya, saya tidak pernah minta kesembuhan total/tidak kambuh lagi. Saya hanya minta agar Tuhan menguatkan saya apapun yang terjadi nanti. Karena saya gak mau merasa kecewa sama Tuhan, kalau saya berdoa minta kesembuhan total dan saya diijinkan harus melewati fase kambuh lagi, tapi jika saya berdoa minta kekuatan saya yakin dan percaya bahkan jikalau saya harus mengalami kambuh sampai berkali-kali saya pasti bisa melewatinya dengan baik"

Jumat, 04 November 2011

Butuh kesabaran agar bisa sabar

Hari Rabu, 26 Oktober 2011 adalah hari dimana gue akhirnya bisa lepas dari obat methyl prednisolon. Kalau dihitung-hitung, tepat 4 bulan gue sudah mengkonsumsi nya sejak 24 Juni 2011. Duh rasanya gue seneng banget bisa brenti minum obat, dan sudah terbayang dengan jelas di benak gue efek samping obat yang semakin lama akan semakin hilang. Gue udah nglamun berat badan gue bakalan turun lagi, rambut gue gak rontok lagi, kulit gue gak kering lagi, moon face gue bakal ilang dan semuanya itu indah di benak gue.

Tapi ternyata meskipun gue gak cinta sama methyl prednisolone, memutuskan hubungan dengan nya juga bikin gue deg2an. Hampir setiap hari gue liatin kaki gue, dan berpikir "duh bengkak gak ya?", trus setiap kali gue buang air kecil, gue itung-itung "banyak gak ya kencing nya?" dan gue liatin "berbusa gak ya?" hahaha ribet bener yaaaa cyiiiin. Tapi jujur gue akuin, ada rasa takut dan cemas kalau itu penyakit balik lagi. Meskipun orang2 bilang gue harus yakin, harus optimis, dan harus percaya kalau Tuhan Yesus pasti menyembuhkan. Duuuh gue bukan nya gak percaya sama kuasa Tuhan yang menyembuhkan, kalau Dia mau gue pasti bisa sembuh total, tapi bukan kah Tuhan selalu punya rencana yang lebih baik? Siapa tau Tuhan membiarkan sakit ini kambuh lagi, bukan karena Dia gak sayang sama gue tapi karena rancangan Nya yang indah itu nyata di dalam hidup gue menurut waktu Nya.

Setelah hampir dua minggu gue melepas obat, puji Tuhan sepertinya symptom penyakitnya gak (belum) muncul lagi. Kaki yang setiap hari gue liatin gak bengkak, volume air kencing nya cukup banyak dan gak berbusa. Meskipun efek samping nya belum 100% ilang, tapi sudah ada perbaikan. Kulit kaki gue yang tadinya kering dan timbul sisik-sisik sekarang sudah mulus lagi, kulit perut yang tadinya muncul strie (bercak2 garis kehitaman) juga sudah hilang. Sepertinya gue harus bersabar untuk bisa kembali ke kondisi fisik sebelum gue sakit, dan untuk bisa sabar juga ternyata diperlukan kesabaran hehehe.

Selasa, 11 Oktober 2011

Lesson from my lil angel

Hari ini, 11 Oktober 2011 tepat 9 bulan my lil angel Kanaya Arsanti Loeksono menikmati dunia. Rasanya baru kemarin gue deg2an di kamar oprasi nunggu si mungil ini diangkat dari rahim gue, eeh sekarang gigi nya udah nongol 2 biji. Buat gue, Kanaya itu segalanya dan orang2 yang kenal gue dari jaman kuda pasti kaget kalau baca statement gue itu. Soalnya gue itu paling anti sama anak kecil, buat gue mereka itu gak ada lucu2nya, ga ada menarik2nya. Tapi itu dulu sebelum gue punya Kanaya, kalau sekarang udah bisa dipastikan bahwa Kanaya adalah segalanya buat gue.

Mengikuti perkembangan dan pertumbuhan nya dari bulan ke bulan ibarat lagi baca novel nya Alberthiene Endah, selalu menarik untuk diikuti dan tidak sabar menunggu kelanjutan nya. Dari Kanaya gue belajar satu hal yaitu pantang menyerah. Gue inget banget waktu dia belajar tengkurep sendiri, berkali-kali dia coba, berkali-kali juga dia gagal tapi dia gak menyerah dan putus asa, terus2an dicobanya sampe akhirnya bisa. Setelah bisa tengkurep sendiri, dia belajar untuk telentang sendiri dan gagal berkali-kali tapi dia ga brenti, terus2an diulang pagi siang sore malem sampe akhirnya bisa. Hal itu juga berlaku ketika dia belajar merangkak, duduk, dan sekarang dia sedang berusaha untuk berdiri sendiri. Gak pernah putus asa, meski jatuh berkali2, ga pernah nyerah meski mami, papi, oma, opa dan suster nya panik sambil triak2 kalau liat dia mau jatuh.

Ngliat dia yang gak pernah putus asa berhasil menyemangati gue ketika menemukan masalah dalam hidup. Kalau Kanaya aja bisa, masa gue sebagai emak nya gak bisa. Kalau setelah jatuh Kanaya masih ketawa2 dan berusah berdiri lagi, masa gue nangis terus2an dan gak mau berjuang lagi?

Terimakasih Kanaya, kamu bikin mami belajar untuk terus berjuang dan tidak cepat menyerah.

Sabtu, 08 Oktober 2011

The Prayer

Tanggal 05-07 Oktober 2011 kemarin gue kembali ke Singapore untuk melakukan pemeriksaan rutin. Bolak balik ke SG, gue baru tentang gereja Katolik Novena yang terkenal dikarenakan banyak orang-orang sakit berdoa disana memohon kesembuhan dan doa nya dikabulkan. Sampai di gereja tersebut nyokap meminta gue untuk berdoa memohon kesembuhan, dan sebenarnya hal ini membuat gue jadi berpikir. Pada dasarnya gue pribadi yakin dan percaya bahwa kuasa-Nya akan bekerja dimanapun dan kapanpun, dan kuasa-Nya tidak melulu harus tentang kesembuhan (jika konteks yg didoakan adalah penyakit). Gue bukan nya tidak percaya bahwa Dia sanggup menyembuhkan, atau tidak percaya adanya mujizat, atau bahkan meragukan kekuasaan-Nya. Tapi gue pribadi meyakini bahwa mujizat, kuasa, dan kebesaran-Nya tidak selalu harus sejalan dengan keinginan manusia. Terkadang kita terjebak dalam konsep pemikiran yang menurut gue sempit, contoh nya manusia sakit pasti ingin sembuh, kemudian manusia berdoa memohon kesembuhan, lalu akhirnya dia sembuh,maka kalimat "mujizat itu nyata", " sungguh besar kuasa Tuhan". "Dia begitu sayang terhadap umat-Nya" akan terlontar dari mulut kita. Sedangkan menurut gue, terkadang Tuhan mengijinkan kita untuk melewati hal-hal buruk seperti misalnya sakit dan tak kunjung sembuh sampai ajal menjemput, atau usaha bangkrut dan tidak bisa bangkit lagi sehingga harus hidup dalam keterbatasan, dan itu semua bukan berarti kuasa-Nya tidak bekerja, Dia tidak sayang sama umat-Nya, atau bahkan Mujizat nya tidak nyata karena kita kurang percaya dan mengimani.

Mengingat sakit gue yang sifatnya kambuhan (bisa kambuh atau tidak kambuh), gue selalu mengingatkan diri sendiri untuk yakin dan percaya kalau suatu saat nanti sakitnya kambuh ini bukan karena Tuhan Yesus tidak sayang gue, atau kuasa-Nya tidak bekerja di dalam diri gue. Buat gue Tuhan Yesus sudah teramat sayang sama gue terlepas dari apapun yang akan terjadi. Berdasarkan pemikiran ini maka di gereja itu gue berdoa bukan untuk memohon kesembuhan, gue berdoa untuk diberi kekuatan agar bisa menjalani ini semua dengan baik dan tetap bisa mensyukuri apapun yang terjadi. Karena gue yakin dan percaya Tuhan Yesus tidak akan meninggalkan gue, dan selama Dia bersama gue maka gue pasti bisa tersenyum meski harus mengarungi badai.

Senin, 03 Oktober 2011

Hallo October

Bulan Oktober selalu punya makna tersendiri buat gue. Bulan ini bukan bulan ulang tahun gue, suami, anak,ataupun bonyok gue. Bulan ini juga bukan bulan pernikahan gue dan suami, bukan juga bulan dimana gue pernah menang lotre. Bulan ini bermakna karena di bulan ini, untuk pertama kalinya gue bertemu seorang lelaki yang akhirnya menjadi suami gue, dan jadi bapak dari anak gue.

Gue ketemu sama dia itu tanggal 23 Oktober 2007. Gue inget saat itu gue dijemput dia sekitar jam 7an malem, waktu itu dia kerja di daerah Kuningan dan jarak dari kantornya ke apartement gue yang letaknya di Sudirman itu emang gak terlalu jauh, tapi macet nya jangan ditanya dong secara jam-jam segitu kan jam nya orang2 pulang kantor. Tapi itu lah yang namanya orang dimabuk asmara, meskipun kaki kiri pegel nginjek kopling dan kaki kanan udh kram nginjem gas dan rem, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk menjemput gue loh. Bahkan sampe di apartemen gue, dia masih bisa tersenyum dengan manisnya. Hal itu tentu akan berbeda jika terjadi sekarang, pilihan yang paling sopan adalah merubah jadwal ketemuan di hari libur sehingga ga akan terjebak macet, atau yang paling ga sopan adalah gak pergi sekalian hehe.

Saat itu kita berdua bahkan gak punya tujuan mau pergi kemana, bayangkan muter2 gak jelas di tengah macetnya ibu kota?? cuma orang yang lagi kasmaran yang bisa melakukan hal ini dengan tulus. Akhirnya setelah beberapa saat muter2 gak jelas, sambil ngobrol ngalor ngidul di dalem mobil, kita memutuskan untuk berhenti di sebuah kedai kopi "Bengawan Solo" di daerah Cikini. Pesanan nya saat itu adalah black coffee (kalau ini bisa dipastikan sampai kapan pun tidak akan berubah), dan gue adalah hot chocolate. Saat itu gue inget banget nanyain dia mau pake brp sachet gula, trus gue sobek sachet gula nya, gue tuang ke cangkir kopi nya dan gue adukin (setelah 4 thn bersama, dia slalu nyidir gue "dulu aja gula nya disobekin, diadukin". Hey, everybody's changing kan? haha) Trus dengan kepulan asap rokok nya, gue menyimak ceritanya dengan seksama. Kalau skrg gue pake akting batuk2 begitu dia mengepulkan asap rokok nya hihi. Berjam-jam kita ngobrol di kedai kopi tersebut, sampe akhirnya kita memutuskan pulang sekitar jam 10an malem.

Sebelum turun di lobby apartemen gue, dengan yakin nya gue bilang ke dia "elu pasti bakalan jatuh (cinta) sama gue" karena sebelum2nya dia selalu bilang kalau dia gak mau "jatuh" sama gue. Dan akhirnya malem itu dia jawab "mungkin iya, gue jatuh sama elu".

Kamis, 29 September 2011

Menghitung berkat

Sejak divonis sakit NS, gue seringkali melakukan obrolan dengan diri sendiri. Nah gue kena sakit NS atau gila nih jangan2? hehe maksudnya sejak sakit, gue jadi sering berefleksi (bener gak sih pemilihan kosakata nya?). Gue meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukan cobaan dari Tuhan, gue menganggap ini semua hanya bagian dari hidup yang harus gue jalani. Gue sangat menghindari pemikiran bahwa Tuhan sedang mencobai gue, atau bahkan berpikir dosa apa gue sampe gue harus dikasih sakit begini. Ini sakit penyakit kok, bukan kutukan ga ada kaitan nya sama dosa2. Gue pernah sih berpikir kenapa gak Nazarudin atau Gayus Tambunan aja yang dikasih sakit NS? Tapi kemudian gue tersadar, kenapa gue harus mempertanyakan hal itu sih? sedangkan ketika gue lulus SMU dengan predikat 3 terbaik, gue ga nanya kenapa sih gak Melvina, Soang, atau Pepel (nama sahabat SMA gue) aja yang juara?

Terkadang kita sebagai manusia, dan tentunya termasuk gue (karena gue juga termasuk manusia) terlalu fokus dan sibuk menghitung dan bahkan mengingat hal-hal yang gak enak. Dan setelah gue pikir-pikir hal itu masuk akal sih, soalnya dibanding berkat yang kita telah terima, hal yang ga enak itu jumlah nya jauh lebih sedikit maka dari itu otak kita yang terbatas hanya mampu mengingat yang ga enak, karena memori otak nya gak cukup untuk mengingat berkat yang jumlah nya luar biasa banyak nya. Coba bayangkan, dalam satu hari ketika kita bisa bangun pagi hal itu sudah termasuk berkat, terus sampai kantor dengan selamat juga berkat, bisa makan siang juga berkat, bahkan bisa menggerakkan jari-jari tangan di atas keyboard komputer juga sebuah berkat, pulang ke rumah dg selamat berkat, pasangan, anak, dan orang tua sehat juga berkat. Tapi seringkali kita mengeluh terjebak macet,kerjaan numpuk gak kelar2,dan duit gajian abis. Gue inget satu buah lagu "Bila topan kras melanda hidupmu bila putus asa dan letih lesu berkat Tuhan satu satu hitunglah kau niscaya kagum oleh kasihNya"

25 tahun dalam hidup gue, rasanya gue selalu hidup penuh kebahagiaan. Lahir di tengah keluarga harmonis, dengan papi dan mami yang luar biasa cinta kasih nya, bisa menikmati pendidikan dari sekolah yang terbaik dan selalu memperoleh nilai akademis yang baik, lulus kuliah bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah, menikah dengan orang yang dicintai, punya anak yang sangat cantik, dikelilingi sahabat dan orang2 yang baik, dan sebagai nya. Jadi kalau saat ini akhirnya gue diijinkan Tuhan untuk mengalami sakit rasanya bukan kiamat untuk hidup gue. Bayangkan 25 tahun lamanya gue selalu menikmati berkat, masa iya gara2 sakit yang baru sekali ini akhirnya gue mau marah2 sama Tuhan dan menganggap Dia ga sayang sama gue serta melupakan semua berkat yang sudah pernah gue trima?

Namun gue memang hanya manusia biasa, gue gak munafik kok kalau memang disaat gue sakit ini ada fase dimana gue merasa down, gue merasa lelah, cape menjalani ini semua, gue frustrasi, depresi dan akhirnya jadi sensi. Tapi seperti petuah suami gue, perasaan itu jangan terus2an diikuti karena bikin keadaan gue makin terpuruk. Terkadang manusia memang "menikmati" perasaan sakit, tapi percaya deh menikmati rasa sakit itu gak akan membantu, yang ada justru bikin kita makin down.

Malaikat yang dikirimkan Tuhan

Kemaren siang gue menerima sebuah pesan via fb dari seorang teman. Gue tidak terlalu dekat sama dia, cuma sebatas kenal dan pernah beberapa kali ngobrol, tapi kejadian kemaren merubah segalanya. Isi pesan yang ia tulis adalah bahwa dia baru tau kalau gue kena penyakit NS dari blog yang gue tulis ini, kemudian dia cerita kalau dia terkena Lupus dan mengkonsumsi obat yang sama yaitu Methyl Prednisilone. Wow gue cukup kaget dengan berita yang ia sampaikan itu, karena seinget gue selama gue mengenal dirinya sepertinya dia baik-baik aja. Akhirnya kita tuker2an pin BB dan pembicaraan pun berlanjut via bbm.

Dari hasil obrolan gue sama dia, gue merasa Tuhan Yesus mengirimkan malaikat melalui diri temen gue itu, dia memberikan gue support dan gue ngrasa support nya itu bukan cuma bullshit. Karena sometimes gue merasa support yang diberikan oleh orang-orang itu cuma bullshit, karena mereka gak ngrasain dan ga ngalamin apa yang gue rasain. Tapi support temen gue ini bener-bener bisa bikin gue tertampar, dari thn 2007 dia dinyatakan kena Lupus sampai saat ini dia survive meskipun sudah mengalami dua kali kambuh. Kondisi yang kita berdua alami hapir sama, kaki dan kelopak mata sama2 pernah bengkak, sama2 moon face dan menggemuk, sama2 pernah mengumpulkan air seni selama 24 jam demi keperluan pemeriksaan laboratorium, sama2 mengalami kerontokan rambut, dan sebagainya. Bisa dikatakan dia juga mengalami apa yang gue alami, merasakan apa yang gue rasakan. Dan kalau dia bisa survive, bisa enjoy, bisa menerima, gue juga harus bisa. Gue pun semakin yakin bahwa Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkan gue, Dia terus menyertai gue bahkan Dia mengirimkan malaikat melalui temen gue itu, untuk memberikan support buat gue. Trimakasih Tuhan Yesus, trimakasih Jeung AL *kiss*

Rabu, 28 September 2011

It's not easy to be me



Kalau ada yang nanya "gimana sakitnya udah sembuh?", gue selalu bingung jawabnya. Karena NS ini bukan seperti sakit batuk, yang kalau uhuk2 nya ilang artinya udah sembuh. Puji Tuhan kaki dan kelopak mata gue udah ga bengkak lagi, hasil lab juga menunjukkan perbaikan itu artinya sakit gue menujukkan reaksi yang positif terhadap pengobatan. Tapi NS ini sifatnya kambuhan, selama gue minum obat sakitnya akan membaik justru yang perlu di khawatirkan adalah bagaimana nanti setelah gue stop minum obat?

Dari 48 miligram dalam satu hari, dan terus berkurang dosisnya hingga sampai saat blog ini ditulis gue mengkonsumsi 8 miligram methyl prednisolone dalam satu hari. Hampir setiap 2-4 minggu skali gue melakukan pemeriksaan darah dan urine di laboratorium serta mengunjungi dokter untuk berkonsultasi. so far sejak gue divonis terkena NS sampai sekarang, hasil nya terus ada perbaikan dan kemajuan, dan gue percaya Tuhan Yesus bekerja di balik itu semua.

Mengkonsumsi methyl prednisolone dalam dosis tinggi dan jangka waktu yang panjang tentu memiliki beberapa efek samping, seperti yang Prof Wiguno bilang akan terjadi moon face, dan jerawat. Belum lagi methyl prednisolone yang merupakan jenis obat kortikosteroid juga menekan imun tubuh, sehingga kekebalan tubuh pasien terhadap virus menurun. Dua minggu pertama mengkonsumsi obat, efek samping belom terlihat dalam diri gue justru yang terlihat dengan signifikan adalah kaki gue yang mulai kempes dan gak bengkak lagi. Setelah satu bulan mengkonsumsi methyl, pipi gue mulai terlihat chubby, lalu setelah nyaris dua bulan penampilan fisik gue mulai memburuk. Disamping moon face, gue juga mulai menggemuk, bagian tubuh yang paling terlihat adalah perut dan punggung di bagian atas, dan muncul striae atau guratan2 di kulit perut. Dan setelah gue googling, ternyata itu yang dinamakan dengan cushing syndrome. Jadi cushing syndrom adalah efek samping yang muncul ketika hormon kortisol dalam tubuh meningkat karena mengkonsumsi obat jenis kortikosteroid atau kontrasepsi yang mengandung estrogen. Tidak hanya itu, gue juga mengalami kerontokan rambut yang sangat parah. Rambut yang tadi nya panjang, akhirnya gue potong menjadi pendek namun hal itu pun tidak membantu. Setiap kali gue nyisir, atau memegang rambut maka helaian2 nya akan lepas apalagi kalau habis keramas, tidak terhitung berapa banyak helai rambut yang terlepas.

Sakitnya sudah berat, beban mental nya lebih berat. Gue mengalami krisis kepercayaan diri, meski judul nya sebelum sakit gue gak secantik Laura Basuki atau Dian Sastro, tapi dengan perubahan fisik yang seperti ini dalam waktu singkat cukup bikin gue shock. Gue jadi menutup diri, malu bertemu orang-orang, dan cenderung menghindari tempat ramai. Meski dokter, suami, kedua orang tua dan sahabat2 gue meyakinkan gue bahwa semuanya itu akan kembali menjadi normal setelah obat nya berhenti diminum tapi rasanya tetap tidak mudah untuk menghadapi ini semua.

Namun tidak selamanya gue terpuruk kok, ada masa-masa dimana gue bisa sangat tegar dan kuat serta enjoy dalam menjalani ini semua, tapi juga ada masa-masa dimana gue mewek, dan merasa gak sabar untuk berhenti minum obat supaya fisik gue kembali seperti sedia kala. Hal ini menjadi dilemma dalam diri gue, di satu sisi gue tau bahwa yang terpenting adalah kesehatan dimana obat yang gue konsumsi ini memang memberikan kemajuan pada sakit yang gue derita, namun di satu sisi gue merasa
sulit menerima jika kesembuhan gue harus dibayar dengan perubahan fisik yang seperti ini.

Yang jelas gue masih bisa survive sampai saat ini, terlepas dari ke-LABIL-an gue, itu semua karena gue yakin Tuhan Yesus selalu ada untuk gue, suami, orang tua, sahabat2 selalu support gue dan my lil angel Kanaya yang selalu tertawa melihat gue. Hal itu artinya penampilan gue ga serem2 amat, buktinya anak gue gak pernah nangis liat tampang gue kan? haha

my Dad is my Hero

Meski hasil biopsi ginjal gue baik dengan NS tipe kelainan minimal, rupanya hal tersebut tidak serta merta membuat kedua orang tua gue tenang, apalagi kaki gue masih bengkak meskipun sudah mengkonsumsi obat. Akhirnya gue nyerah juga untuk berangkat berobat ke Singapore pada tanggal 1 Juli 2011.

Gue berangkat ke Singapore berdua bareng bokap gue, suami dan nyokap gue gak ikut. Pesawat dijadwalkan berangkat sekitar pukul 5 sore. Sampai di bandara, bokap langsung menuju counter maskapai penerbangan yang akan kami naikki untuk meminjam kursi roda. Kaki gue yang masih bengkak menyulitkan gue untuk berjalan, dan apabila gue berdiri terlalu lama maka bengkak nya akan makin parah. Saat itu bandara Soekarno Hatta penuh sesak, karena musim liburan anak sekolah. Sambil nunggu bokap gue nyari pinjeman kursi roda, gue berusaha untuk mencari tempat duduk namun sayang semuanya penuh. Akhirnya gue duduk di lantai, gak peduli sama orang-orang yang penting kaki gue jangan makin bengkak karena rasanya makin berat untuk jalan.

Sepanjang perjalanan dari JKT-SG, kaki gue dipangku di atas paha bokap. Sebisa mungkin kaki gue tidak ada di posisi bawah terlalu lama untuk menghindari bengkak yang makin parah. Sampai di Sing, kita berdua nginep di apartemen yang dipinjami oleh temen bokap, kebetulan apartemen tersebut letaknya ada di seberang Mount Elizabeth Hospital. Malamnya sebelum tidur, bokap ngajak gue untuk berdoa bareng. Yang gue inget saat itu, tangan gue digenggam sama bokap kemudian dia berdoa (yang kira2 gue inget begini isi doanya) "Tuhan, terimakasih untuk penyertaan Mu selama perjalanan dari Jkt menuju Sing sehingga kami sampai dengan selamat. Tuhan, kiranya Engkau yang menyertai kami selama di Sing dalam menjalani pengobatan untuk Lina, kiranya Engkau yang memberikan hikmat sehingga kami bisa mendapatkan dokter yang tepat dan mendapatkan pengobatan yang baik. Amin"

Besok pagi nya, gue sama bokap jalan kaki ke Mount Elizabeth dan menuju ke tempat praktik Dr. x (gue lupa namanya). Jadi gue dapet referensi mengenai Dr x ini dari Prof Wiguno, sampai disana kata susternya dr x lagi cuti dan baru praktek minggu depan. Waduuuh matilah gue, gimana ini??? Tapi kemudian si suster melanjutkan, "kalau untuk sindrom nefrotik lebih baik ke Dr. Hoo Chee Kun". Akhirnya gue menuju tempat praktek Dr. Hoo, dan disana gue ketemu sama beberapa pasien dari Indonesia yang mengatakan bahwa Dr. Hoo adalah dokter yang baik, dan bagus. Setelah bertemu dengan beliau, ternyata pengobatan yang gue dapet juga sama dengan Prof Wiguno. Dan menurutnya, bengkak2 di kaki gue baru akan hilang setelah 2 minggu gue mengkonsumsi methyl prednisolon (saat di Singapore, baru hari ke 7 gue minum obat). Puji Tuhan banget ternyata diagnosa dan pengobatan yang selama ini udah gue jalani ga sia2.

Namanya ke Singapore, ga afdol kalau gak belanja. Dengan kaki yang masih bengkak dan jalan yang masih susah gue sama bokap tetep jalan2 di Orchard Rd. Mampir ke Ion, masuk ke Paragon, dan ga lupa bolak balik makan es potong. Jalan-jalan bentar lalu duduk dan angkat kaki supaya ga bengkak hehe. Setelah 3 hari di Singapore, skrg waktunya untuk pulang Indonesia. Dan untuk mendapatkan pinjaman kursi roda di Changi saat itu sulit nya bukan main, ketika akhirnya mendapatkan kursi roda pun disana gak ada staff dari maskapai penerbangan yang bakalan ngebantuin kita untuk ngedorong kursinya. Alhasil saat itu bokap gue harus ngedorong kursi roda, dan gue duduk dengan memangku 1 buah koper. Kita keliling-keliling Changi dan di tengah kondisi gue yang masih sakit, kita berdua berusaha untuk enjoy dan happy, malahan masih bisa mampir ke gerai tas dan beliin nyokap gue hand bag. Sama seperti perjalanan dari JKT ke SG, saat pulang pun kaki gue masih harus dipangku di atas paha bokap supaya gak bengkak. Papiiiiiii, trimakasih untuk semuanya yaaa...

Minimal Change Disease

Kurang lebih satu minggu, hasil biopsi nya sudah keluar. Rasanya gue tegang dan deg2an banget waktu mau ngambil hasil tersebut di RS. Gue takut kalau hasil biopsi nya jelek. Prof Wiguno sebelumnya pernah menjelaskan bahwa Sindrom Nephrotic ini biasanya di derita oleh anak-anak, dan biasanya yang diderita oleh mereka adalah NS (Nefrotik Sindrom) dengan tipe minimal change disease (MCD). Tipe kelainan minimal adalah tipe yang memberikan reaksi positif terhadap pengobatan. Sedangkan kasus NS untuk orang dewasa lebih jarang ditemukan. Tipe NS sendiri ada banyak, dari yang paling ringan yaitu MCD, dan jenis yang lebih berat seperti glomerulosklerosis focal segmental (FSGS) dan glomerulonefritis membranoproliferative (MPGN). Sepanjang perjalanan ke RS, gue terus menerus berdoa memohon supaya gue diberi kekuatan dan kesabaran untuk bisa menghadapi ini semua. Dan Puji Tuhan, hasil biopsi ginjal gue baik adanya, sehingga dapat dikatakan bahwa NS yang gue alami adalah tipe MCD.

Setelah mengetahui hasil biopsi nya, gue kembali menemui prof Wiguno dan gue diberi obat methyl prednisolone yang merupakan jenis kortikosteroid. Obat tersebut harus gue minum dalam jangka waktu yang cukup panjang yaitu kurang lebih 6 bulan, dengan dosis awal yang diberikan cukup tinggi yaitu 48 mg dalam satu hari. Gue harus mengkonsumsi nya selama kurang lebih 1.5 - 2bln, baru setelah itu dosis nya akan perlahan-lahan diturunkan sampai kemudian gue bisa stop minum obat. Dokter juga menjelaskan beberapa efek samping yang mungkin akan gue alami setelah mengkonsumsi obat tersebut, diantaranya moon face (muka menjadi bulat), jerawat, sakit pada lambung, dan sebagainya. Namun efek samping tersebut akan hilang setelah obat nya berhenti diminum.

Selama perjalanan pulang dari RS ke rumah, gue pun menangis. Moon face dan berjerawat??? ya Tuhan, wanita mana yang ingin penampilan nya menjadi buruk? Gue menyadari bahwa kesehatan dan kesembuhan gue adalah yang utama, tapi dengan efek samping seperti itu rasanya 'down' juga.

Selasa, 27 September 2011

BIOPSI GINJAL

Setelah melakukan pemeriksaan laboratorium, ternyata hasil lupus gue negatif, dan rontgen paru-paru gue baik. Hanya saja protein yang terbuang dari tubuh gue nilai nya besar yaitu 7,7 gr dari nilai normal nya dibawah 1gr. Berat badan gue juga naik drastis, 10 kg dalam waktu 3 hari hal itu dikarenakan cairan yang tidak terbuang dari tubuh gue. Balik lagi ke RS Cikini untuk berkonsultasi dengan Prof Wiguno dan akhirnya gue bilang kalau gue siap di biopsi di RS PGI Cikini.

Lusa nya gue dianter nyokap dan suami gue ke RS PGI Cikini, saat itu kaki gue masih lumayan bengkak meski sudah tidak sebengkak kemarenan karena dengan obat yang gue minum rupanya cukup membantu untuk membuang air seni. Saat itu bisa 3 menit sekali gue ke toilet untuk buar air seni. Waktu gue diopname di RS PGI Cikini, bukan hanya Prof Wiguno yang memeriksa gue namun ada tiga orang dokter lagi sebagai tim PDGH (Penyakit Dalam Ginjal Hipertensi). Puji Tuhan, Dia memang sungguh baik, menurut Dok Juniar, proses biopsi bisa dilakukan besok nya karena cairan dalam tubuh gue sudah tidak terlalu banyak, dan jikalau tidak ada pendarahan/komplikasi selama 24 jam maka gue bisa pulang satu hari setelah proses biopsi. Artinya gue bisa cepet ketemu sama my lil angel Kanaya.

Di RS gue ditemeni sama nyokap gue kalau siang, dan kalau malam suami gue yang nemenin, Mereka gantian jaga gue, dan gue sangat-sangat takjub dan terharu sama nyokap gue. Nyokap gue itu orangnya penakut, ditambah lagi dia gak apal jalan di Jakarta tapi demi gue, dia berani naik taxi sendirian dari apartemen gue ke RS. Cuma modal nekat dan cinta kasih ke gue, dia dengan pede nya bilang ke supir taxi "ke RS Cikini", dan dia jawab "terserah yang penting nyampe" ketika si supir nanya mau lewat mana? Meski bokap gue saat itu gak lagi ada di Jakarta,dia berkali-kali nelpon dan menanyakan keadaan gue, kamar gue pun rame dikunjungi sodara-sodara dan teman2 bonyok gue. Dalam keadaan sakit, gue bersyukur banget karena Tuhan Yesus ternyata nemenin gue lewat kehadiran mereka semua.

Dan hari yang dinanti pun tiba, saat itu sekitar jam 12 siang gue dibawa ke ruangan biopsi. Sepanjang perjalanan dari kamar ke ruang biopsi, gue nyanyi "Ya Tuhan tiap jam, ku memerlukan Mu. Engkaulah yang memberi sejahtera penuh. Setiap jam ya Tuhan, Dikau kuperlukan. Ku datang juruslamat, berkatilah". Sebelum masuk ruang biopsi, nyokap dan suami gue nyium gue. Duh rasanya gak karuan, antara tegang, takut, dan ga sabar supaya proses ini cepat selesai. Sesampainya di ruang biopsi, gue diminta untuk tidur tengkurap, dan pinggang sebelah kiri gue dibius. Setelah itu dokter menempelkan alat USG, dan menandai nya dengan spidol (mungkin), kemudian gak berapa lama dokter menembakkan jarum ke pinggang gue,proses itu dilakukan berkali-kali untuk mendapatkan jaringan ginjal gue. Setelah proses nya selesai, dokter menunjukkan jaringan ginjal gue yang udah dimasukkan ke dalam wadah kecil, bentuknya seperti cacing yang dipakai untuk memberi makan ikan hehe.

Kalau ditanya apa rasanya di biopsi, gue jawab dengan lantang "ga sakit lah, gak berasa apa2 kok, cuma jedut jedut aja kaget waktu ada jarum yang ditembakkan". Tapi kalau ada yang nanya apa rasanya setelah dibiopsi, gue bakal memberikan tatapan mata yang paling sendu, kemudian teriak "whoaaaa amit2 deh, jangan lagi deeeeeh ampuuuun DJ". Jadi setelah proses biopsi nya selesai, gue tidur telentang dengan bantal kecil seukuran 20cm x 20 cm berisi pasir yang mengganjal pinggang gue. Tujuan nya untuk menekan bekas luka agar tidak terjadi pendarahan, dan itu berlangsung selama 8 jam dan gue gak boleh gerak2 untuk menghindari pendarahan. 1 Jam pertama masih cekikikan sama nyokap, 1 jam berikutnya masih bbm-an sama temen2 dan suami gue, 1 jam berikutnya mulai ngantuk tapi susah tidur karena pegel, dan jam2 berikutnya diisi dengan melihat ke arah jam dan menghitung berapa lama lagi bantal kecil nan mengganggu ini boleh dilepas. Di 1 jam terakhir, nyokap gue mulai mijit2 kaki tangan gue yang pegel karena gak diperbolehkan gerak2, mulai garuk2in badan gue yang mulai berasa gatal (mungkin krn faktor pikiran), mulai nyuapin gue dan meyakinkan gue dengan makan maka waktu tidak akan berasa, sampai akhirnya kurang 15 menit lagi gue minta nyokap gue manggil suster, dan suster ngejawab "nanti ya bu, 15 menit lagi". Ya Tuhan, harga cabe aja bisa ditawar, masa ini nawar 15 menit aja ga boleh sih?Tepat 8 jam, dua orang suster masuk ke kamar gue dan melepas bantal tersebut rasanya seperti mengalami orgasme pertama di malam pengantin haha, nikmatnya tiada dua.